(bu heni dan temanya) Bu Heni dan Temannya
Telah sebulan lamanya Andi, seorang
pemuda tampan rupawan, berkenalan
dengan wanita paruh baya berumur empat
puluh lima tahun bernama Bu Henny, istri
seorang pejabat teras pemerintah pusat di
Jakarta. Berawal saat mereka bertemu di
sebuah department store di kawasan Senen
dekat tempat Andi bekerja. Ketika itu Andi
dengan tidak sengaja menolong Bu Henny
waktu wanita itu mencari sesuatu yang
terjatuh dari tas tangan yang dibawanya.
Dari pertemuan itulah kemudian keduanya
memulai hubungan teman yang kini
berkembang menjadi lebih erat,
perselingkuhan!
Pemuda lajang yang berwajah tampan itu
telah membuat Bu Henny jatuh hati hingga
tak dihiraukannya lagi status dirinya
sebagai istri seorang pejabat. Ditambah
dengan kebiasaan buruk dan kondisi
keluarganya yang memang penuh
pertengkaran akibat suami yang doyan
menyeleweng seperti layaknya kebiasaan
para pejabat pemerintah yang tak pernah
lepas dari perihal korupsi, kolusi,
nepotisme dan perilaku seks yang selama
ini selalu diarahkan pada generasi muda
sebagai kambing hitam.
Pertemuan pertama yang begitu
mengesankan bagi kedua orang itu telah
membawa mereka mengarungi petualangan
demi petualangan cinta yang dari hari ke
hari semakin membuat mereka mabuk
asmara. Kencan-kencan rahasia yang selalu
mereka lakukan di saat suami Bu Henny
melakukan tugas ke luar negeri telah
menjadi sebuah jadwal rutin bagi keduanya
untuk semakin mendekatkan diri. Nafsu
seksual Bu Henny yang meledak-ledak dan
terpendam, menemukan tempat yang
begitu ia impikan semenjak bertemu
pemuda itu. Sebagai pemuda lajang yang
juga masih memiliki keinginan libido seksual
yang tinggi, Andipun tak kalah
menikmatinya.
Bu Henny seperti memberi semua yang
pemuda itu dambakan. Kepuasan seksual
yang ia peroleh dari hubungannya dengan
istri pejabat itu benar-benar telah
membuat hidupnya bahagia. Dendam
pribadinya sebagai anak muda yang
merasa sangat tertipu oleh para pejabat
negara seperti terlampiaskan dengan
melakukan perselingkuhan itu. Ditambah
lagi dengan pesona tubuh Bu Henny yang
sangat ia sukai. Sesuai dengan seleranya
yang suka pada tubuh montok ibu-ibu
dengan postur tubuh bahenol dan payudara
besar seperti yang dimiliki wanita itu
benar-benar pas seperti seleranya.
Postur tubuh Bu Henny yang bongsor
dengan pantat, pinggul dan buah dada yang
besar memang telah membuat Andi
menjadi gila seks hingga dalam setiap
hubungan badan yang mereka lakukan
keduanya selalu menemukan kepuasan seks
yang hebat. Apalagi dengan bentuk
kemaluan yang besar dan sangat panjang
dari Andi semakin membuat Bu Henny tak
pernah puas dan selalu haus dengan
hubungan seksual mereka. Kemaluan Andi
yang besar dan panjang serta
kemampuannya menaklukkan nafsu
kewanitaan Bu Henny hingga wanita itu
harus bangkit lagi untuk mengimbangi
permainan Andi telah melahirkan gairah
yang selalu membara pada diri wanita itu.
Tak bosan-bosannya mereka melakukan
persetubuhan dimana mereka merasa aman
dan nyaman. Hari-hari kedua insan yang
mabuk kepuasan seks itupun berjalan
lancar dan penuh kenikmatan.
Bulan November tahun 1996, Andi meminta
cuti selama satu minggu. Pemuda tampan
itu telah sebulan sebelumnya
merencanakan untuk menghabiskan liburan
di sebuah pulau kecil lepas pantai Bali.
Perusahaan tempat ia bekerja memberinya
tiket gratis untuknya. Sementara di lain
tempat, suami Bu Henny mendapat tugas
ke luar negeri untuk jangka waktu yang
cukup panjang. Hingga saat Andi
mengatakan rencananya pada wanita itu Bu
Henny langsung menyambutnya dengan
penuh suka cita. Dengan gemas ia
membayangkan apa yang akan mereka
lakukan di pulau kecil itu. Dengan
kemewahan hotel berbintang lima yang
eksklusif, tak tertahankan rasanya untuk
segera melakukan hal itu. Benaknya kian
dipenuhi bayangan kebebasan seks yang
akan ia tumpahkan bersama Andi.
Tiba saatnya mereka berangkat ke Bali,
keduanya bertemu di airport dan langsung
berpelukan mesra sepanjang perjalanan.
Tak terasa penerbangan satu jam lebih itu
telah membawa mereka sampai di tujuan.
Bagaikan sepasang pengantin baru
keduanya begitu mesra hingga feri yang
membawa mereka menuju pulau Nusa
Lembongan itu telah merapat di sebuah
dermaga kecil tepat di depan hotel tempat
mereka menginap. Keduanya langsung
menuju lobby dan melakukan prosedur
check in. Tergesa-gesa mereka masuk ke
sebuah bangunan villa yang telah dipesan
Bu Henny dan langsung menghempaskan
tubuh mereka di tempat tidur. Dengan
nafas yang terdengar turun naik itu
keduanya langsung bergumul dan saling
mengecup. Bibir mereka saling memagut
disertai rabaan telapak tangan ke arah
bagian-bagian vital tubuh mereka. Saat
tangan Bu Henny meraba punggung Andi,
pemuda itu dengan perlahan melepaskan
kancing gaun terusan yang dikenakan Bu
Henny hingga gaun itu terlepas dari
tubuhnya.
Kini tampak tubuh putih mulus dan bahenol
itu terbuka. Dadanya yang membusung ke
depan dengan buah payudara yang besar
masih dilapisi BH putih berenda itu terlihat
semakin menantang dan membuat nafsu
Andi semakin tak tertahan. Disingkapnya
BH itu kebawah hingga buah dada Bu
Henny tersembul dihadapannya. Bibir Andi
langsung menyambut dengan kecupan.
"aahh.., hhmm", desah Bu Henny, kecupan
Andi membuatnya merasakan kenikmatan
khas dari mulut pemuda itu saat Andi
mulai menyedot putingnya.
Perempuan itu terus mendesah sambil
berusaha melepaskan celana yang
dikenakan Andi, setelah berhasil
melepaskan celana panjang itu tangan Bu
Henny langsung meraih batang penis Andi
yang telah tegang mengeras. Dirabanya
lembut sambil mengusap-usap kepala
penis yang begitu disukainya itu.
"oohh.., Bu.., oohh", kini desahan Andi
terdengar menimpali desahan Bu Henny,
kecupan pemuda itupun kini menuju ke arah
bawah dada Bu Henny yang terus-menerus
mendesah menahan nikmatnya permainan
lidah Andi yang terasa menari di
permukaan kulitnya. Perlahan pemuda itu
menuju ke daerah bawah pusar Bu Henny
yang ditumbuhi bulu-bulu halus dari sekitar
daerah kemaluannya. Dengan pasrah Bu
Henny mengangkang membuka pahanya
lebar untuk memberi jalan pada Andi yang
semakin asik itu. Jari tangan pemuda itu
kini menyibak belahan kemaluan Bu Henny
yang menantang, dan dengan penuh nafsu
ia mulai menjilati bagian dalam dinding
vagina wanita paruh baya itu. Andi tampak
begitu buas menyedot-nyedot clitoris
diantara belahan vagina itu sehingga Bu
Henny semakin tampak terengah-engah
merasakannya.
"uuhh.., uuhh.., uuhh.., oohh.., oohh..,
teruuss sedoot sayaang.., oohh pintaar
kamu Andi.., oohh", kini terdengar Bu
Henny setengah berteriak.
Andi semakin terlihat bersemangat
mendengar teriakan nyaring Bu Henny yang
begitu menggairahkan. Seluruh bagian
dalam dinding vagina yang berwarna
kemerahan itu dijilatnya habis sambil
sesekali tangannya bergerak meraih susu
Bu Henny yang montok itu, dengan gemas
ia meremas-remasnya. Kenikmatan itupun
semakin membuat Bu Henny menjadi liar
dan semakin tampak tak dapat menguasai
diri. Wanita itu kini membalik arah
tubuhnya menjadi berlawanan dengan Andi,
hingga terjadilah adegan yang lebih seru
lagi.
Kedua insan itu kini saling meraih kemaluan
lawannya, Andi menjilati liang vagina Bu
Henny sementara itu Bu Henny menyedot
buah penis pemuda itu keluar masuk
mulutnya. Ukuran penis yang besar dan
panjang itu membuat mulutnya penuh
sesak. Ia begitu menyenangi bentuknya
yang besar, penis yang selalu membuatnya
haus. Buah penis itulah yang selama ini
dapat memuaskan nafsu birahinya yang
selalu membara. Dibanding milik suaminya
tentulah ukuran penis Andi jauh lebih
besar, penis suaminya tak lebih dari satu
perlima ukuran penis pemuda itu.
Ditambah lagi dengan kemampuan Andi
yang sanggup bertahan berjam-jam sedang
suaminya paling hanya dapat membuat
wanita itu ngos-ngosan. Sungguh suatu
kepuasan yang belum pernah ia rasakan
dari siapapun seumur hidupnya selain dari
Andi.
Belasan menit sudah mereka saling
mempermainkan kemaluan masing-masing
membuat keduanya merasa semakin ingin
melanjutkan indehoy itu ketahap yang lebih
hebat. Bu Henny bahkan tak sadar bahwa
ia belum melepas sepatu putih yang
dikenakannya dalam perjalanan.
Nafsu mereka yang telah tak tertahankan
itu membuat keduanya seperti tak peduli
akan hal-hal lain. Bu Henny kini langsung
menunggangi Andi dengan arah
membelakangi pemuda itu. Digenggamnya
sejenak penis Andi yang sudah tegang dan
siap bermain dalam vaginanya itu, lalu
dengan penuh perasaan wanita itu
menempelkannya di permukaan liang
vaginanya yang telah basah dan licin, dan
"Sreepp bleess", penis Andi menerobos
masuk diiringi desahan keras dari mulut
mereka yang merasakan nikmatnya awal
senggama itu.
"oo.., hh..", teriak Bu Henny histeris
seketika merasakan penis itu menerobos
masuk ke liang vaginanya yang seakan
terasa sangat sempit oleh ukuran penis
pemuda itu.
"aahh.., Buu.., enaakk", Balas Andi sambil
mulai mengiringi goyangan pinggul Bu
Henny yang mulai turun naik di atas
pinggangnya. Matanya hanya menatap
tubuh wanita itu dari belakang
punggungnya. Tangan Andi meraih
pinggang Bu Henny sambil membelainya
seiring tubuh wanita itu yang bergerak liar
di atas pinggang Andi.
"Ohh Andi.., oohh sayang.., enaaknya yah
sayang oohh.., ibu suka kamu sayang
oohh.., enaknya And.., penis kamu enaakk",
desah Bu Henny sambil terus bergoyang
menikmati penis Andi yang terasa semakin
lezat saja. Andipun tak kalah senang
menikmati goyangan wanita itu, mulutnya
juga terdengar mendesah nikmat.
"aauu.., oohh vagina ibu juga nikmat, ooh
lezatnya oohh bu, oohh goyang terus bu..".
"Sini tanganmu sayang remas susu ibu..",
tangan Bu Henny menarik tangan Andi
menuju buah dadanya yang menggantung
dan bergoyang mengikuti irama permainan
mereka. Andi meraihnya dan langsung
meremas-remas, sesekali puting susu itu
dipilinnya. Bu Henny semakin histeris",
aauu.., oohh enaak, remeess teruus susu
ibu Andi.., oohh.., nikmat.., oohh Andi".
"Ohh Bu Henny.., oohh Bu enaknya goyang
ibu oohh terus goyang oohh sampai
pangkal Bu oohh.., tekan lagi oohh angkat
lagi oohh.., mmhh oohh vaginanya enaakk
Bu oohh", teriak Andi mengiringinya, kamar
villa yang luas itu kini penuh oleh teriakan
nyaring dan desahan bernafsu dari kedua
insan yang sedang meraih kepuasan seks
secara maksimal itu. Bu Henny benar-benar
seperti kuda betina liar yang baru lepas
dari kandangnya. Gerakannya diatas tubuh
Andi semakin liar dan cepat, menunjukkan
tanda-tanda mengalami klimaks
permainannya. Sementara itu Andi hanya
tampak biasa saja, pemuda itu masih asik
menikmani goyangan liar Bu Henny sambil
meremasi payudara wanita itu bergiliran
satu per satu.
Lima belas menit saja adagan itu
berlangsung kini terlihat Bu Henny sudah
tak dapat lagi menahan puncak kenikmatan
hubungan seksual itu. Lalu dengan histeris
wanita itu berteriak keras dan panjang
mengakhiri permainannya.
"oouu.., oo.., aa.., iihh.., ibu keluaarr.., oo..,
nggak tahaann laagii enaaknyaa Andi..,
oohh", teriaknya panjang setelah
menghempaskan pantatnya ke arah
pinggang Andi yang membuat kepala penis
pemuda itu terasa membentur dasar liang
rahimnya, cairan kental yang sejak tadi
ditahannya kini muncrat dari dalam rahim
wanita itu dan memenuhi rongga vaginanya.
Sesaat Andi merasakan vagina Bu Henny
menjepit nikmat lalu ia merasakan
penisnya tersembur cairan kental dalam
liang kemaluan wanita itu, vagina itu terasa
berdenyut keras seiring tubuh Bu Henny
yang mengejang sesaat lalu berbah lemas
tak berdaya.
"oohh An, ibu nggak kuat lagi.., Istirahat
dulu ya sayang?", pintanya pada Andi
sambil melepaskan gigitan vaginanya pada
penis pemuda itu.
"Baiklah Bu", sahut Andi pendek, ia
mencoba menahan birahinya yang masih
membara itu sambil memeluk tubuh Bu
Henny dengan mesra.
Penis pemuda itu masih tampak berdiri
tegang dan keras. Dengan mesra
dicumbunya kembali Bu Henny yang kini
terkapar lemas itu. Andi kembali meraba
belahan kemaluan Bu Henny yang masih
basah oleh cairan kelaminnya, jarinya
bermain mengutil titik kenikmatan di
daerah vagina wanita itu. Bibirnyapun tak
tinggal diam, ia kembali melanjutkan
jilatannya pada sekitar puting susu Bu
Henny. Sesekali diremasnya buah dada
berukuran besar yang begitu disenanginya
itu. Kemudian beberapa saat berlalu, Bu
Henny menyuruhnya berjongkok tepat di
atas belahan buah dada itu, lalu wanita itu
meraih sebuah bantal untuk mengganjal
kepalanya. Ia meraih batang penis Andi
yang masih tegang dan mulai
mengulumnya, tangan wanita itu kemudian
meraih payudaranya sendiri dan membuat
penis Andi terjepit diantaranya. Hal itu
rupanya cukup nikmat bagi Andi sehingga
ia kini mendongak menahan rasa lembut
yang menjepit buah penisnya. Sementara
itu tangan pemuda itu terus bermain di
permukaan vagina Bu Henny, sesekali ia
memasukkan jarinya ke dalam liang
kemaluan itu dan mempermainkan
clitorisnya sampai kemudian beberapa saat
lamanya tampak Bu Henny mulai bangkit
kembali.
"Hmm.., Andi, kamu memang pintar
sayang, kamu buat ibu puas dan nyerah,
sekarang kamu buat ibu kepingin lagi,
aduuh benar-benar hebat kamu An", puji
Bu Henny pada Andi.
"Saya rasa suasana ini yang membuat saya
jadi begini Bu, saya begitu menikmatinya
sekarang, nggak ada rasa takut, kuatir
ketahuan suami ibu atau waswas. Ibu juga
kelihatan semakin menggairahkan akhir-
akhir ini, saya semakin suka sama badan
ibu yang semakin montok"
"Ah kamu bisa aja, An. Masa sih ibu
montok, yang bener aja kamu".
"Bener lho, Bu. Saya begitu senang sama
ibu belakangan ini, rasanya kenikmatan
yang ibu berikan semakin hari semakin
hebat saja".
"Mungkin ibu yang semakin bersemangat
kalau lagi main sama kamu, gairah ibu
seperti meledak-ledak kalau udah main
sama kamu. Tapi, ayo dong kita mulai lagi,
ibu jadi mau main lagi nih kamu bikin. iih
hebatnya kamu sayang", kata Bu Henny
sambil mengajak Andi kembali membuka
permainan mereka yang kedua kali.
Masih di atas tempat tidur itu, kini Andi
mengambil posisi di atas Bu Henny yang
berbaring menghadapnya. Tubuhnya siap
menindih tubuh Bu Henny yang bahenol itu.
Perlahan tapi pasti Andi masuk dan mulai
bergoyang penuh kemesraan. Di raihnya
tubuh wanita itu sambil menggoyang penuh
perasaan. Sepasang kemaluan itu kembali
saling membagi kenikmatannya. Suara
desahan khas mulai terdengar lagi dari
mulut mereka, diiringi kata-kata rayuan
penuh nikmat dan gairah cinta.
Kini Andi semakin garang meniduri wanita
itu. Gerakannya tetap santai namun
genjotan pinggulnya pada tubuh Bu Henny
tampak lebih bertenaga. Hempasan tubuh
Andi yang kini turun naik di atas tubuh Bu
Henny sampai menimbulkan suara decakan
pada permukaan kemaluan mereka yang
beradu itu. Bibir mereka saling pagut,
kecupan disertai sedotan di leher keduanya
semakin membuat suasana itu menjadi
tegang dan menggairahkan. Teriakan-
teriakan nyaring keluar dari mulut Bu Henny
setiap kali Andi menekan pantatnya ke arah
pinggul wanita itu.
Beberapa saat lamanya mereka lalu
berganti gaya. Bu Henny menempatkan
dirinya di atas tubuh Andi, dibiarkannya
Andi menikmati kedua buah dadanya yang
menggantung. Dengan leluasa kini pemuda
itu menyedot puting susu itu secara
bergiliran. Tak puas-puasnya Andi
menikmati bentuknya yang besar itu, ia
begitu tampak bersemangat sambil sebelah
tangannya meraba punggung Bu Henny.
Buah dada besar dan lembut nan mulus
itupun menjadi kemerahan akibat sedotan
mulut Andi yang bertubi-tubi di sekitar
putingnya. Sementara Bu Henny kini asik
bergoyang mempermainkan irama tubuhnya
yang turun naik bergoyang ke kiri kanan
untuk membagi kenikmatan dari kemaluan
mereka yang sedang beradu. Penis Andi
yang tegang dan keras itu seakan bagai
batang kayu jati yang tak tergoyahkan.
Sekuat wanita itu mendorong ke arah
pinggul Andi sekuat itu pula getaran rasa
nikmat yang diperolehnya dari pemuda itu.
"oohh.., oohh.., oohh.., enaknya Andi..,
oohh enaknya penis kamu sayang.., ibu
ketagihan.., oohh lezatnya.., aahh.., uuhh..,
sedoot teruus susu ibu.., oohh sayang
oohh", desah Bu Henny bercampur jeritan
menahan rasa nikmat dari goyang
pinggulnya di atas tubuh Andi. Untuk
kesekian kalinya sensasi kenikmatan rasa
dari penis Andi yang besar dan panjang itu
seperti bermain di dalam liang vaginanya.
Liang kemaluan yang biasanya hanya
merasakan sedikit geli saat bersenggama
dengan suaminya itu kini seperti tak
memiliki ruang lagi oleh ukuran penis
pemuda itu. Seperti biasanya saat dalam
keadaan tegang penuh, penis Andi memang
menjadi sangat panjang hingga Bu Henny
selalu merasakan penis itu sampai
membentur dasar liang rahimnya yang
paling dalam. Dan keperkasaan pemuda itu
yang sanggup bertahan berjam-jam dalam
melakukan hubungan seks itu kini kembali
membuat Bu Henny untuk kedua kalinya
mengalami ejakulasinya. Dengan gerakan
yang tiba-tiba dipercepat dan hempasan
pinggulnya ke arah tubuh Andi yang
semakin keras, wanita itu berteriak panjang
mengakhiri ronde kedua permainannya.
"aahh.., ahh.., aa.., aahh.., ibu ke.., lu.., ar
laagii.., oohh.., kuatnya kamu sayang oohh".
jeritnya kembali mengakhiri permainan
itu."oohh bu.., enaak oohh vagina ibu
nikmat jepitannya ooh hh..", balas Andi
sambil ikut menggenjot keras menambah
kenikmatan puncak yang dialami Bu Henny.
Pemuda itu masih saja tegar bergoyang
bahkan saat Bu Henny telah lemas tak
sanggup menahan rasa nikmat yang
berubah menjadi geli itu.
"aawww.., gelii.., Andi stop dulu, ibu
istirahat dulu sayang ohh gila kamu And,
kok bisa kayak gini yah?".
"Habiis ibu sih goyangnya nafsuan banget,
jadi cepat keluar kan?".
"Nggak tahu ya An, ibu kok nafsunya gede
banget belakangan ini, sejak ngerasain
penis kamu ibu benar-benar mabuk
kepayang..", kata Bu Henny sambil
menghempaskan tubuhnya di samping Andi
yang masih saja tegar tak terkalahkan.
"Sabar Bu, saya bangkitkan lagi deh..", seru
pemuda itu sekenanya.
"Baiklah An, ibu juga mau bikin kamu puas
sama pelayanan ibu, biar adil kan? Sini ibu
karaoke penis kamu.., aduuh jagoanku..,
besar dan panjang oohh.., hebatnya lagi",
lanjut Bu Henny sambil beranjak meraih
batang kemaluan Andi yang masih tegang
itu lalu memulai karaoke dengan
memasukkan penis Andi ke mulutnya.
Andi kembali merasakan nikmat dari
permainan yang dilakukan wanita itu
dengan mulutnya, penis besarnya yang
panjang dan masih tegang itu dikulum
keluar masuk dengan buas oleh Bu Henny
yang tampaknya telah sangat
berpengalaman dalam melakukan hal itu.
Sambil berlutut pemuda itu menikmatinya
sembari meremas kedua buah payudara Bu
Henny yang ranum itu. Telapak tangannya
merasakan kelembutan buah dada nan
ranum yang begitu ia sukai. Dari atas
tampak olehnya wajah wanita paruh baya
yang cantik itu dengan mulut penuh sesak
oleh batang penisnya yang keluar masuk.
Sesekali Bu Henny menyentuh kepala penis
itu dengan giginya hingga menimbulkan
sedikit rasa geli pada Andi.
"Auuwww.., nikmat Bu sedot terus aahh,
aduuh enaknya".
"mm.., mm..", Bu Henny hanya bisa
menggumam akibat mulutnya yang penuh
sesak oleh penis Andi.
Andi terlihat begitu menikmati detik demi
detik permainannya, ia begitu menyenangi
tubuh bongsor wanita yang berumur jauh
lebih tua darinya itu. Nafsu birahinya pada
wanita dewasa seperti Bu Henny memang
sangat besar. Ia tak begitu menyenangi
wanita yang lebih muda atau seumur
dengannya. Andi beranggapan bahwa
wanita dewasa seperti Bu Henny jauh lebih
nikmat dalam bermain seks dibanding gadis
ABG yang tak berpengalaman dalam
melakukan hubungan seks. Setiap kali ia
melakukan senggama dengan Bu Henny ia
selalu merasakan kepuasan yang tiada
duanya, wanita itu seperti sangat mengerti
apa yang ia inginkan. Demikian pula Bu
Henny, baginya Andi-lah satu-satunya pria
yang sanggup membuatnya terkapar di
ranjang. Tak seorangpun dari mantan
kekasih gelapnya mampu membuat wanita
itu meraih puncak kepuasan seperti yang ia
dapatkan dari Andi.
Sepuluh menit sudah Andi di karaoke oleh
Bu Henny. Kemudian kini mereka kembali
mengatur posisi saat wanita itu kembali
bangkit untuk yang ketiga kalinya. Ia yang
telah terkapar dua kali berhasil
dibangkitkan lagi oleh pemuda itu. Inilah
letak keperkasaan Andi. Ia dapat membuat
lawan mainnya terkapar beberapa kali
sebelum ia sendiri meraih kepuasannya.
Pemuda itu sanggup bermain dalam waktu
dua jam penuh tanpa istirahat. Sejenak
mereka bermain sambil berdiri, saling
menggoyang pinggul, mirip sepasang penari
samba. Namun kemudian dengan cepat
mereka menuju kamar mandi dan masuk ke
dalam bak air hangat yang luas, sembari
mengisi bak rendam itu dengan air mereka
melanjutkan permainannya di situ, mereka
masuk ke dalam bak dan langsung
mengatur posisi di mana Andi
menempatkan diri dari belakang dan
memasukkan penisnya dari arah pantat Bu
Henny.
Adegan seru kembali terjadi, teriakan kecil
menahan nikmat itu terdengar lagi dari
mulut Bu Henny yang merasakan genjotan
Andi yang semakin nikmat saja. Diiringi
suara tumpahan air dari kran pengisi bath
tube itu suasana menjadi semakin
menggairahkan.
"aahh.., nikmat An, aahh.., oohh penis kamu
sayang oohh enaak, mmhh lezaatnya oohh..,
genjot yang lebih keras lagi dong.., oohh
enaak", teriak Bu Henny sejadi-jadinya saat
merasakan nikmat di liang vaginanya yang
dimasuki penis pemuda itu. Andi juga kini
tampak lebih menikmati permainannya, ia
mulai merasakan kepekaan pada penisnya
yang telah membuat Bu Henny menggapai
puncak dua kali itu.
"Ooohh.., Bu.., vagina ibu juga nikmat
sekali.., oohh saya mulai merasa sangat
nikmat oohh.., mmhh.., Bu oohh, Bu Henny
oohh ibu cantik sekali oohh.., saya merasa
bebas sekali", oceh mulut Andi menimpali
teriakan gila dari Bu Henny yang juga
semakin mabuk oleh nikmatnya goyang
tubuh mereka.
Keduanya memang tampak liar dengan
gerakan yang semakin tak terkendali.
Beberapa kali mereka merubah gaya
dengan beragam variasi seks yang sangat
atraktif. Kadang di pinggiran bath tub itu Bu
Henny duduk mengangkang dengan pahanya
yang terbuka lebar sementara Andi
berjongkok dari depannya sambil
menggoyang maju mundur, mulutnya tak
pernah lepas menghisap puting susu Bu
Henny yang montok dan besar itu. Bunyi
decakan cairan kelamin yang membeceki
daerah pangkal kemaluan yang sedang
beradu itupun kini terdengar bergericik
seiring pertemuan kemaluan mereka yang
beradu keras oleh hempasan pinggul Andi
yang menghantam pangkal paha Bu Henny.
"Aduuhh Anndii.., enaaknya goyang kamu
sayang oohh.., teruus.., aahh genjot yang
keraass.., oohh sampai puaass.., hhmm
enaakk sayangg.., mmhh nikmaattnya..,
oohh.., enaknya genjotan kamu.., oohh..,
Andi sayang ooh kamu pintar sekali oohh
ibu nggak mau berhenti sama kamu..,
oohh.., jagonya kamu sayang oohh genjot
terus yang keras".
"Ohh Bu Henny, ibu juga punya tubuh yang
nikmat, nggak mungkin saya bosan sama
ibu, oohh.., apalagi susu ini.., oohh mm..,
enaknya.., baru sekali ini saya ketemu
wanita cantik manis dengan tubuh yang
begitu aduhai seperti ibu, ooh Bu Henny..,
goyang ibu juga nikmat sekali ooh meski
ibu sudah punya anak tapi vagina ini
rasanya nikmat sekali bu, oohh susu ibu
juga mm.., susu yang paling indah yang
pernah saya lihat.., auuhh enaaknya vagina
ini.., oohh.., penis saya mulai sedikit peka
bu", balas Andi memuji wanita itu.
Keduanya terus saling menggoyang sambil
memuji kelebihan masing-masing, ocehan
mereka berkisar pada kenikmatan seks
yang sedang mereka alami saat ini. Andi
memuji kecantikan dan kemolekan tubuh Bu
Henny, sedang wanita itu tak henti-hentinya
memuji keperkasaan dan kenikmatan yang
ia dapatkan dari Andi. Beberapa saat
berlalu, mereka kembali merubah variasi
gayanya menjadi gaya anjing, Bu Henny
menunggingkan pantatnya ke arah Andi lalu
pemuda itu menusukkan kemaluannya dari
arah belakang. Terjadilah adegan yang
sangat panas saat Andi dengan gerakan
yang cepat dan goyang pinggul yang keras
memnghantam ke arah pantat Bu Henny.
Wanita itu kini menjerit lebih keras,
demikian pula dengan Andi yang saat ini
mulai merasakan akan menggapai klimaks
permainannya.
"oohh.., oohh.., oohh.., aauuhh.., ennaakk..,
An.. Di sayang.., genjoot.., ibu mau keluaar
lagii.., oohh.., nggaak tahan lagi sayang..,
nikmaat oohh", jerit nyaring Bu Henny yang
ternyata juga sedang mengalami ejakulasi,
vaginanya merasakan puncak kenikmatan
itu seperti sudah diambang rahimnya. Ia
masih mencoba untuk bertahan.
Demikian halnya dengan Andi yang kini
sedang mempercepat gerakan pinggulnya
menghantam pantat Bu Henny untuk meraih
kenikmatan maksimal dari dinding vagina
wanita itu. Kepala penisnyapun mulai
berdenyut menandakan puncak
permainannya akan segera tiba. Buru-buru
diraihnya tubuh Bu Henny sambil
membalikkan arahnya menjadi berhadapan,
lalu kemudian ia mengangkat sebelah kaki
wanita itu ke atas dan dengan gesit
memasukkan buah penisnya kembali ke
liang vagina Bu Henny.
"ooh Bu, saya juga mau keluar. Kita pakai
gaya ini yah?! Saya mau keluarkan sekarang
juga.., aauuhh Bu Henny sayang.., oohh..,
enaakk.., oohh.., vagina ibu njepit.., enaak",
teriak Andi diambang puncak
kenikmatannya, ia begitu kuat merasakan
cairan sperma yang sudah siap meluncur
dari penisnya yang dalam keadaan puncak
ketegangannya itu. Kemaluannya terasa
membesar sehingga vagina Bu Henny
terasa makin sempit dan nikmat. Wanita
itupun merasakan hal yang tak kalah
nikmatnya, vaginanya seakan sedang
merasakan nikmat yang super hebat dan
membuat wanita itu tak dapat lagi
menahan keluarnya cairan kelamin dari
arah rahimnya.
"oohh.., aahh.., ibu keeluuaarr laagii.., aahh
enaakk.., Andii", teriak Bu Henny
mengakhiri permainannya, disaat
bersamaan Andi juga mengalami hal yang
sama. Pemuda itu tak dapat lagi menahan
luncuran cairan spermanya, hingga
penisnya pun menyemprotkan cairan itu ke
dalam rongga vagina Bu Henny dan
membuatnya penuh, dinding vagina itu
seketika berubah menjadi sangat licin
akibat dipenuhi cairan kelamin kedua
manusia itu. Andi tampak tak kalah seru
menikmati puncak permainannya, ia
berteriak sekeras-kerasnya.
"aahh.., saya keluaarr juga Bu Henny
oohh.., oohh.., air mani saya masuk ke
dalam vagina ibu.., oohh.., lezaat.., oohh Bu
Henny sayaanng.., oohh Bu Henny.., enaak",
jeritnya sambil mendekap wanita itu
dengan keras dan meresapi sembuaran
spermanya dalam jumlah yang sangat
banyak. Cairan putih kental itu sampai
keluar meluber ke permukaan vagina Bu
Henny.
Akhirnya kedua insan itu ambruk dan saling
mendekap dalam kolam air hangat yang
sudah penuh itu. Mereka berendam dan
kini saling membersihkan tubuh yang sudah
lemas akibat permainan seks yang begitu
hebat. Mereka terus saling mencumbu dan
merayu dengan penuh kemesraan.
"Andi sayang..", panggil Bu Henny.
"Ya, bu".
"Kamu mau kan terus main sama ibu?".
"Maksud ibu?".
"Maksud ibu, kamu mau kan terus kencan
gini sama ibu?".
"Oh itu, yah jelas dong bu, masa sih saya
mau ninggalin wanita secantik ibu", jawab
Andi sambil memberikan kecupan di pipi
Bu Henny.
"Ibu pingin terus bisa menikmati
permainan ini, nggak ada yang bisa
memuaskan birahi ibu selain kamu. Suami
ibu nggak ada apa-apanya kalau
dibandingkan dengan kamu. Dulu
sebelumnya ibu juga pernah pacaran sama
pegawai bawahan suami ibu tapi ah mereka
sama saja, hanya nafsu saja yang besar,
tapi kalau sudah main kaya ayam, baru lima
menit sudah keluar".
"Yah saya maklum saja bu, tapi ibu jangan
kuatir. Saya akan terus menuruti kemauan
ibu, saya juga senang kok main sama ibu.
Dari semua wanita yang pernah saya
kencani cuma Ibu deh rasanya yang paling
hebat bergoyang. Bentuk tubuh Ibu juga
saya paling suka, apalagi kalau yang ini
nih..", kata Andi sambil memilin puting
susu Bu Henny.
"Auuw.., Andi! gelii aahh.., ibu udah nggak
tahan.., nanti lagi ah", jerit Bu Henny
merasakan geli saat Andi memilin puting
susunya.
Keduanya terus bercumbu rayu hingga saat
beberapa puluh menit kemudian mereka
mengeringkan badan lalu beranjak menuju
tempat tidur. Di sana lalu mereka saling
dekap dan hanyut dalam buaian kantuk
akibat kelelahan setelah permaian seks
yang hebat itu. Merekapun tertidur lelap
beberapa saat kemudian. Masih dalam
keadaan telanjang bulat keduanya terlelap
dalam dekapan mesra mereka. Dua jam
lamanya mereka tertidur sampai saat senja
tiba mereka terbangun dan langsung
memesan makan malam di kamar.
Hari pertama itu Andi dan Bu Henny benar-
benar seperti gila seks. Permainan demi
permainan mereka lakukan tanpa mengenal
berhenti. Saat malam tiba keduanya kembali
melampiaskan nafsu birahi mereka sepuas-
puasnya. Klimaks demi klimaks mereka
raih, sudah tak terkira puncak kenikmatan
yang telah mereka lalui malam itu. Dengan
hanya diselingi istirahat beberapa belas
menit saja mereka kembali lagi
melakukannya. Dari pukul delapan malam
sampai menjelang jam empat pagi mereka
dengan gila mengumbar nafsu seks mereka
di villa yang luas itu. Berbagai macam obat
kuat dan ekstasi mereka minum untuk
memperkuat tenaganya. Minuman keras
mereka tegak sampai mabuk untuk
menyelingi permainan itu. Televisi yang ada
di kamar itupun mereka putarkan Laser Disc
porno yang telah mereka siapkan dari
Jakarta, sambil melihat adegan seks di TV
itu mereka menirukan semua gerakannya.
Malam itu sungguh menjadi malam birahi
yang panjang bagi kedua orang yang
sedang mabuk seks itu. Begitu salah satu
dari mereka merasa lemas mereka
langsung menegak pil kuat pembangkit
tenaga yang telah mereka siapkan. Belasan
botol bir sudah habis ditegak Andi
ditambah beberapa piring sate kambing
untuk membuatnya selalu tegang dan
panas. Barulah menjelang dini hari mereka
terkapar lemas kemudian tertidur lelap
tanpa busana. Kamar itupun tampak
berantakan akibat permainan yang mereka
lakukan di sembarang tempat, dari tempat
tidur sampai kamar mandi, meja makan,
sofa, lantai karpet, sampai toilet jongkok
yang ada di kamar mandi.
Keesokan harinya mereka masih tampak
terlelap sampai siang menjelang sore,
tubuh mereka terasa penat dan malas.
"Huuaahhmm", terdengar Andi menguap.
"Kamu sudah bangun sayang?", tanya Bu
Henny begitu mendengar suara pemuda itu,
ia lebih dahulu bangun untuk mengambil
pesanan minuman yang ditaruh di meja
teras samping kolam renang pribadi yang
ada di villa itu. Secangkir kopi ia ambilkan
untuk Andi lalu wanita itu beranjak keluar
kamar menuju kolam renang di depan
kamar mereka. Dengan bebas ia lalu
membuka gaun tidur yang dikenakannya
dan bermain di kolam renang itu. Andi
hanya memperhatikan dari dalam kamar.
Villa itu memang dibatasi oleh tembok
tinggi bergaya tradisional Bali dengan
halaman yang luas. Gerbangnyapun dapat
dikunci dari dalam sehingga aman bagi
tamu dari gangguan. Mereka juga telah
memesan agar tidak diganggu selama hari
pertama sampai ketiga agar mereka dapat
menikmati kepuasan yang mereka inginkan
itu secara maksimal.
Andi memandang tubuh Bu Henny dari
kejauhan sambil membayangkan apa yang
telah diraihnya dari wanita paruh baya yang
telah bersuami itu. Betapa beruntungnya ia
yang hanya seorang biasa pegawai
perusahaan swasta itu dapat menggauli
istri pejabat tinggi pemerintah yang
biasanya sangat sulit didapatkan orang lain.
Seleranya pada wanita dewasa yang
berumur jauh di atasnya menjadikan
pemuda itu sangat menikmati hubungan
gelapnya dengan Bu Henny. Tubuh wanita
itu putih mulus dengan wajah manis
menggairahkan, buah dada yang begitu
menantang dengan ukuran yang besar
ditambah lagi dengan goyang tubuhnya
yang aduhai menjadikannya benar-benar
sempurna di mata Andi.
Dari jauh ia menatap tajam ke arah Bu
Henny yang kini duduk di pinggiran kolam
itu, tampak jelas saat wanita itu sedikit
mengangkang memperlihatkan daerah
kemaluannya yang ditumbuhi bulu-bulu
halus. Itu adalah bagian yang paling disukai
Andi, dalam setiap hubungan seks yang
mereka lakukan Andi tak pernah sekalipun
melewatkan kesempatannya untuk menjilati
daerah itu. Aromanya yang khas dengan
permukaan bibir vagina yang merah
merekah menjadikannya selalu tampak
menantang dan membangkitkan nafsu
birahi.
Umur Bu Henny sudah lebih dari empat
puluh tahun justru menambah gairah
pemuda itu, ia merasa benar-benar
mendapatkan apa yang ia inginkan dari Bu
Henny. Gairah dan nafsu birahi yang selalu
membara, kedewasaan berfikir maupun
teknik bermain cinta yang begitu ia sukai
semua ia dapatkan darinya. Kehangatan
tubuh wanita bersuami itu sungguh cocok
dengan selera Andi. Kehangatan yang tak
pernah sekalipun ia dapatkan dari wanita
muda, apalagi ABG yang sok seksi seperti
yang banyak terdapat di kota-kota besar.
Ia sudah bosan dan muak dengan anak-
anak kecil yang murahan dan hanya
mengenal seks secara pas-pasan itu.
Namun hubungannya dengan Bu Henny kini
seperti memberinya pengalaman lebih
tentang seks dan segala misteri yang ada di
dalamnya. Teknik-teknik menikmati
senggama yang sebelumnya hanya ia baca
dari buku tuntunan seks itu kini dapat ia
praktikkan dan rasakan kenikmatannya dari
tubuh Bu Henny. Bahkan Bu Henny seperti
menuntunnya ke arah kesempurnaan teknik
seks yang hari demi hari semakin terasa
memabukkan.
Beberapa saat memandangi tubuh bugil itu
membuat Andi kembali terangsang. Iapun
kemudian beranjak bangun dari tempat
tidur dan menyambar sebuah handuk lalu
berjalan menghampiri Bu Henny di pinggir
kolam itu. Sambil tersenyum Bu Henny
menyambutnya dengan sebuah kecupan
mesra, Andi merangkulnya dari belakang
dan dengan perlahan kemudian mereka
masuk ke kolam dan berenang dengan
bebas. Mereka asik bermain dengan air,
saling menyiram sambil sesekali
menggelitik daerah vital. Keduanya
bercanda puas dengan sangat bebas. Dunia
bagaikan milik mereka berdua di tempat
itu. Bu Henny memang sengaja memesan
villa dengan bangunan dan lokasi khusus
yang jauh dari keramaian, dengan segala
fasilitas yang bersifat pribadi seperti
kolam, taman dan pantai pribadi yang
tertutup untuk tamu lain semua menjadi
milik mereka berdua. Dengan sepuas hati
mereka menghabiskan sisa waktu siang hari
itu untuk bermain di kolam maupun di
pantai, berenang kemudian saling
berkejaran di pantai dan taman villa itu.
Tak ketinggalan mereka melakukan
hubungan seks yang cukup seru di kolam
renang, hingga hari itu mereka benar-benar
sangat ceria.
Senjapun tiba, kedua manusia yang
dimabuk nafsu birahi itu rupanya sudah
terlalu lelah untuk kembali melakukan
senggama seperti yang mereka perbuat
kemarin. Kini keduanya tampak duduk di
sebuah sofa di teras villa itu sambil
menikmati snack dan minuman ringan yang
mereka pesan. Beberapa saat kemudian
dua orang pelayan hotel mengantarkan
makan malam yang mewah sekalian menata
kembali kamar yang berantakan oleh
permainan seks yang mereka lakukan hari
sebelumnya. Kedua orang pelayan itu
seperti heran melihat keadaan kamar yang
cukup berantakan, tapi sedikitpun mereka
tak berani mengeluh ataupun bercanda
pada kedua tamunya karena Bu Henny
memang membayar villa termahal
ditambah dengan kondisi khusus yang
membuat mereka menjadi tamu terpenting
yang paling dihormati.
Setelah menghabiskan makan malam yang
besar dengan menu penuh gizi disertai
minuman energi untuk pemulih tenaga itu
mereka beranjak naik ke tempat tidur. Bu
Henny menyalakan televisi dan
memprogram sebuah film horor dari laser
disc. Sejenak kemudian mereka sudah
terlihat asik saling mendekap sambil
menyaksikan film itu hingga larut malam
sebelum lalu mereka tertidur saling
mendekap mesra. Dua hari itu mereka
habiskan dengan mengumbar nafsu birahi
sepuas-puasnya hingga kini mereka perlu
istirahat yang panjang untuk memulihkan
stamina mereka. Hari ketiga mereka
habiskan dengan membaca berita dari
majalah yang disediakan hotel. Siang
harinya mereka mengambil sebuah
program hiburan menyelam di laut sekitar
pulau itu untuk menyaksikan keindahan
bawah laut berupa ikan hias dan karang
yang beraneka ragam. Keduanya melakukan
itu untuk melengkapi hiburang dan selingan
dari tujuan utama mereka, meraih kepuasan
seks bebas!
Masih di pulau kecil lepas pantai tenggara
pulau Bali, Bu Henny dan Andi
menghabiskan liburan satu minggu mereka.
Keduanya terlihat asyik duduk menikmati
matahari terbenam di ufuk barat. Warna
kemerahan bercampur birunya laut semakin
terlihat indah dengan terdengarnya lagu-
lagu yang dimainkan grup hiburan hotel
diiringi alat musik akustik spanyol yang
eksotik. Pasangan itu mengambil tempat
duduk di pojok kanan sebuah hamparan
taman rumput dan bonsai yang indah,
sedikit terpisah dari tamu yang lain.
Mereka tampak sedang menikmati
minuman ringan dan seporsi besar sea
food berupa lobster dan soup kepiting
kegemaran Andi. Sesekali keduanya tampak
tertawa kecil bercanda ria membicarakan
kisah-kisah lucu yang mereka alami.
Beberapa saat kemudian ketika mereka
sedang asik bercanda seorang wanita cantik
berumur kurang lebih sama dengan Bu
Henny datang dari arah belakang
mengejutkan mereka. Begitu dekat wanita
itu langsung menepuk pundak Bu Henny
yang sama sekali tak melihat
kedatangannya.
"Selamat malam pengantin baru", ucapnya
pada Bu Henny, wanita itu langsung
membalikkan badan terkejut mendapat
sentuhan tiba-tiba itu. Tapi sesaat setelah
mengetahui siapa yang datang, matanya
tampak berbinar penuh keceriaan.
"Eeeiiihh..., Rani..., aduuuh jantungku
hampir copot..., uuuhh hampiiir aja aku
mati kaget Ran, eh ngapain kamu di sini
dan kok kamu tahu aku disini?".
"Aduh Hen, aku tuh nyari kamu dari rumah
sampai ke kolong jembatan tahu nggak,
susaah banget".
"lantas siapa yang ngasih info kalu aku di
sini".
"Lho kan kamu sendiri yang cerita sama
aku sebelum berangkat, kalau kamu mau
liburang ke sini".
"Oh iya aku lupa".
"Jelas lupa dong, lha kamu lagi bulan madu
kayak gini gimana nggak lupa daratan?",
sahut wanita itu menggoda Bu Henny.
"Idiiih kamu nyindir yah?, Awas tak jitak
kamu", lanjut Bu Henny sambil
mengacungkan tangannya ke arah wanita
itu.
"Jitak aja, ntar aku buka kartu kamu di
suami kamu, ya nggak?", sergahnya tak mau
kalah.
"Alaa..., kalau yang itu sih lapor aja, aku sih
sekarang sudah punya jagoan, ngapain
takut mikirin si botak jelek itu, huh dasar
tua bangka..., moga aja dia mati ketabrak
kereta api di Luar negeri, toh paling dia
juga lagi nyari jajanan di jalan tuh, siapa
nggak tahu sih pejabat pemerintah..., eh
ngomong-ngomong aku sampai lupa
ngenalin Andi sama kamu, nih dia Arjunaku
yang sering kuceritakan sama kamu, Ran.
Andi ini Tante Rani, teman akrab ibu dari
sejak di SMA dulu".
"Halo Tante..., saya Andi", kata pemuda itu
sambil mengulurkan tangan pada wanita
rekan Bu Henny itu. Sejak tadi ia cuma
memperhatikan kedua wanita yang tampak
saling akrab itu.
"Halo juga Andi, Bu Henny pernah juga
cerita tentang kamu".
"Eh Ran, kamu ngapain ke sini, pasti deh
ada masalah penting di perusahaan, ada
apa sih?" tanya Bu Henny penasaran pada
Tante Rani, namun raut wajah wanita itu
langsung berubah muram saat Bu Henny
bertanya.
"Aku ada masalah lagi sama suamiku,
Hen", jawabnya sambil menunduk, wanita
itu tampak sedih.
"Ya ampuuun Ran, aku kan sudah bilang
sama kamu seribu kali, kalau suami kamu
bikin ulah, kamu harus balas. Jangan bodoh
gitu dong ah, jangan sok setia begitu. Eh
tahu nggak biar kamu nggak cerita sama
aku, tapi aku sudah tahu masalah kamu.
Pasti suami kamu nyeleweng lagi kan? Eh
Ran, Kamu harus sadar tahu nggak, semua
yang namanya pejabat itu bangsat, denger
yah, bangsat, nggak bisa dipercaya. Kamu
susah amat jadi orang setia. eeehh, suami
kamu nikmat-enakan di luar sana tidur
sama gadis-gadis muda, sadar Ran, kamu
harus gitu juga, jangan kalah", oceh Bu
Henny panjang pada Tante Rina yang masih
tertunduk. Bu Henny melanjutkan omelan
dan nasehatnya pada wanita itu dengan
penuh amarah. Ia seperti tak tega jika
teman baiknya itu dijadikan bulan-bulanan
oleh sumai yang brengsek seperti umumnya
pejabat pemerintah.
"Atau gini aja deh, aku nggak mau kamu
jadi kusut kayak begini, sebagai sahabat
dekat kamu, aku siap ngebantuin kamu
supaya bisa ngelupain masalah ini, okay?",
Bu Henny memberi alternatif pada Tante
Rani yang sedari tadi hanya bisa terdiam
seribu basa.
Bu Henny melanjutkan kata-katanya dengan
penuh semangat, "Okay Ran, ini mungkin
akan ngejutin kamu, tapi itupun terserah
apakah kamu mau terima atau tidak ini
hanya ide, kalau kamu terima ya bagus
kalaupun nggak juga nggak apa-apa kok,
dengerin yah..", sejenak ia menghentikan
kata-katanya lalu beberapa saat kemudian
ia melanjutkan, "malam ini kamu boleh
gabung sama kita berdua, maksudku Andi
dan aku, aku nggak keberatan kok kalau
Arjunaku harus melayani dua wanita
sekaligus, toh aku sendiri rasanya nggak
cukup buat dia, ya nggak An?" katanya
sembari melirik pada Andi.
Pemuda itu langsung terkejut, namun
sebelum ia sempat berkata Bu Henny sudah
kembali melanjutkan ocehannya, "Tapi,
Bu..."
"Alaa.., nggak pakai tapi tapi lagi deh, toh
kamu juga pasti senang kan?, lagi pula ibu
ingin lihat apa kamu sanggup ngalahin kita
berdua".
"Tapi Hen", sergah Tante Rani.
"Eh kamu nggak usah malu-malu, pokoknya
lihat saja nanti yah, ayo sekarang yang
penting kita bisa senang sepuas puasnya,
umbar dan raih kepuasan. Nggak ada yang
berhak ngelarang kamu Ran", lanjut Bu
Henny tak mau mengalah.
Sementara Andi dan Tante Rani hanya
terdiam dan saling melirik. Andi yang sejak
pertama telah memperhatikan bentuk tubuh
Tante Rani yang tak kalah indah dari Bu
Henny kini merasakan dadanya berdebar
keras. Sudah tergambar di benaknya tubuh
dua wanita paruh baya yang sama-sama
memiliki tubuh bahenol itu akan ia tiduri
sekaligus dalam satu permainan segi tiga
yang tak pernah ia lakukan sebelumnya.
Dua orang istri pejabat pemerintah dengan
wajah cantik manis dan kulit yang putih
mulus itu akan ia nikmati sepuas hati.
Belum sempat ia berpikir banyak, Bu Henny
tiba-tiba memecahkan keheningan.
"Heh ngelamun kalian berdua yah, ntar aja
di kamar lihat kenyataannya pasti asiiik, ya
nggak. Sekarang ayoh pesen minuman lagi",
katanya sambil melambaikan tangan pada
pelayan bar.
"Dua bir lagi yah, kamu apa Ran, oh yah
kamu kan nggak biasa minum".
"Apa aja deh, Hen".
"Kasih Gin Tonic aja deh Mas", lanjut bu
Henny pada pelayan itu.
"Baik Bu, saya ulangi, Dua Bir dan Satu Gin
Tonic", ulang si pelayan.
Sesaat kemudian mereka telah terlihat asik
berbincang sambil tertawa-tawa kecil.
Beberapa botol minuman telah mereka
habiskan hingga kini ketiganya tampak
mulai mabuk. Pembicaraan mereka jadi
ngolor ngidur tak karuan diselingi tawa
cekikikan dari kedua wanita itu.
Pukul setengah sepuluh lewat, mereka
bertiga meninggalkan bar terbuka menuju
ke villa tempat Andi dan Bu Henny. Ketiga
orang itu tampak saling berpelukan sambil
sesekali tangan-tangan nakal mereka saling
mencubit. Obsesi mereka sudah dipenuhi
bayangan yang sama akan apa yang segera
akan mereka lakukan di kamar itu, hingga
begitu masuk kamar ketiganya langsung
saling menyerang di atas tempat tidur yang
berukuran besar itu. Dengan nafsu
menggelora dan nafas yang terdengar turun
naik, ketiganya langsung saling melepas
pakaian sampai mereka semua telanjang
bulat dan memulai permainan segitiga itu.
Andi berbaring telentang menghadap ke
atas lalu dengan cepat Bu Henny
menyambar kemaluan Andi dan
mempermainkan penis yang telah setengah
tegang itu dengan mulutnya. Ia mulai
menjilat kepala penis sebesar buah ketimun
itu dengan penuh nafsu, sementara itu Andi
menarik pinggul Tante Rani dan
menempatkan wanita itu mengangkang
tepat di atas wajahnya sehingga daerah
sekitar kemaluan wanita itu terjangkau oleh
lidah dan bibir Andi yang siap menjilatinya.
Pemuda itu menarik belahan bibir vagina
Tante Rani dan mulai menjilat dengan
lidahnya.
Permainan segitiga itu mulai sudah, Bu
Henny mengkaraoke penis Andi dan
pemuda itu memainkan lidah dan
menyedoti daerah vagina Tante Rani. Suara
desahan kini mulai terdengar memecah
keheningan suasana malam itu. Decakan
suara lidah Andi yang bermain
dipermukaan vagina Tante Rani mengiringi
desahan wanita itu yang menahan nikmat
dari arah selangkangnya. Sementara itu
Andi sendiri mulai merasakan kenikmatan
dari penisnya yang keluar masuk mulut Bu
Henny. Adegan itu berlangsung beberapa
saat sebelum kemudian Bu Henny dengan
bernafsu mengambil posisi menunggang di
atas pinggul Andi dan langsung
memaksukkan penis pemuda itu ke dalam
liang vaginanya. "Sreeep blesss", penis
besar dan panjang itu menerobos masuk ke
dalam liang vagina Bu Henny.
"aahh..., enaak", desahnya begitu terasa
penis itu membelah dinding vagina yang
seperti terlalu sempit untuk penis pemuda
itu.
Lain halnya dengan Tante Rani yang sejak
pertama terus mendesah keras menahan
kenikmatan yang diberikan Andi lewat
lidahnya yang menjilati seluruh dinding dan
detil-detil alat kelamin wanita itu.
Ukurannya tampak lebih tebal dari milik Bu
Henny, belahan bibir vagina Tante Rani
lebih lebar hingga liangnya tampak lebih
nikmat dan menggairahkan.
Mengimbangi kenikmatan dari lidah Andi,
Tante Rani kini meraih buah dada Bu Henny
yang bergelantungan berayun seiring
gerakannya di atas pinggul Andi. Kedua
wanita yang berada di atas tubuh pemuda
itu saling berhadapan dan saling meraih
buah dada dan saling meremas membuat
adegan itu menjadi semakin panas.
"ooouuuhh Hen, nikmat sekali ternyata...,
ooohh kamu benar Hen ooohh sedot terus
vagina Tante, And.., oooh enaak", jerit
Tante Rani merasakan nikmat itu, nikmat di
selangkangannya dan nikmat di buah
dadanya yang teremas tangan Bu Henny.
"Kamu mau rasain yang ini Ran? uuuh,
bakalan ketagihan kamu kalau udah
kesentuh buah penis ini", Bu Henny
menawarkan posisinya pada Tante Rani
yang sejak tadi tampak heran oleh ukuran
penis Andi yang super besar dan panjang
itu. Ia kemudian mengangguk kegirangan
sambil beranjak merubah posisi mereka.
Matanya berbinar dengan perasaan
setengah tak percaya ia memandangi buah
penis itu.
"Uhh besarnya penis ini Hen, pantas kamu
jadi gila seks seperti ini.., ooh", serunya
keheranan.
"Ayolah segera coba..", kata Bu Henny
sambil menuntun pinggul wanita itu menuju
ke arah penis yang sudah tegang dan keras
itu. Namun sebelumnya ia menyempatkan
diri menjilati vagina Tante Rani yang
tampak merah menggairahkan itu.
"Aduuuh Ran, bagusnya bentuk vagina
kamu..", seru wanita itu sambil menjulurkan
lidahnya ke arah kemaluan Tante Rani.
Sejenak ia menyempatkan diri memberi
sentuhan lidahnya pada vagina Tante Rani.
"Iiihh kamu Hen, aku udah nggak sabar nih
katanya sambil menggenggam batang
kemaluan Andi. Kemudian dengan gesit di
tuntunnya penis itu sampai permukaan
vaginanya yang tampak basah oleh air liur
Andi dan Bu Henny Dan.., "Sreeettt",
"Auuuwwww Andiii..., vaginaku rasanya
robek Henny aduuuh..", jeritnya tiba-tiba
saat merasakan penis Andi yang
menerobos masuk liang vaginanya. Lubang
itu terasa sangat sempit hingga ia
merasakan sedikit perih seperti waktu
merasakan pecah perawan di malam
pengantin barunya dulu. Namun beberapa
saat kemudian ia mulai merasakan
kenikmatan maha dahsyat dari penis besar
itu. Ia mulai bergoyang perlahan, rasa
perih telah berubah menjadi sangat nikmat.
"uuuhh..., aahh..., ooohh enaakkk, Andi
ooohh Hen, baru pertama kali aku
ngerasain penis segede ini Hen, ooohh
pantas kamu begitu senang berselingkuh...,
oooh Hen..., aku bakalan ketagihan kalau
seperti ini nikmatnya..., ooohh", wanita itu
mulai mengoceh saat menikmati penis
besar Andi yang keluar masuk liang
vaginanya.
Sementara Bu Henny kini menikmati
permainan lidah Andi pada permukaan
vaginanya yang berada tepat di atas wajah
pria itu. Andi sesekali menyedot keras
clitoris Bu Henny yang merah sebesar biji
kacang di celah vaginanya hingga wanita itu
berteriak geli. Dua orang wanita itu kembali
saling meremas buah dada. Keduanya
dalam posisi berhadap-hadapan. Tangan
Andipun sebelah tak mau ketinggalan
meremas sebelah susu Bu Henny yang tak
sempat diremas Tante Rani. Bergilir
diraihnya payudara montok kedua wanita
yang menidurinya itu. Penisnya yang tegang
terus keluar masuk oleh gerakan naik turun
Tante Rani di atas pinggulnya. Goyangan
wanita itu tak kalah hebatnya dengan Bu
Henny, ia sesekali membuat putaran pada
poros pertemuan kemaluannya dengan
penis Andi sehingga kenikmatan itu
semakin sensasional. Namun itu hanya
dapat ia tahan selama lima belas menit,
ketika Andi ikut menekan pinggangnya ke
atas menghantam posisi Tante Rani, wanita
itu berteriak panjang dengan vagina yang
berdenyut keras dan cairan kelamin yang
tiba-tiba meluncur dari dasar liang
rahimnya.
"ooohh Anndiii Taantee keluaarr..., ooohh
enaak, Henny aku nggak kuat lagi ooohh...,
nikmatnya penis ini..., ooh enaakkk",
teriaknya panjang sebelum kemudian
terkapar disamping Andi dan Bu Henny
yang masih ingin melanjutkan permainan
itu. Andi bangkit sejenak dan memberikan
ciuman pada Tante Rani, lau mengatur
posisi baru dengan Bu Henny.
"Ayo Bu, kita lanjutin mainnya.., istirahat
dulu ya Tante", seru Andi pada Tante Rani.
"Baiklah, aku mau lihat kalian main aja",
jawabnya sembari kemudian berbaring
memandangi Andi dan Bu Henny yang kini
saling tindih meraih kepuasan. Kedua orang
itu sengaja menunjukkan gaya-gaya
bermain yang paling hot hingga membuat
Tante Rani terheran-heran menyaksikannya.
Goyangan tubuh Bu Henny yang begitu gesit
di atas tubuh Andi sementara pemuda itu
memainkan buah dada besar Bu Henny
yang bergelantungan dengan penuh nafsu.
Suara desah nafas yang saling memburu
dari keduanya terdengar sangat keras dan
terpatah-patah akibat menahan kenikmatan
dahsyat dari kedua kemaluan mereka yang
beradu keras saling membentur yang
menimbulkan bunyi decakan becek. Daerah
sekitar kemaluar mereka tampak telah
basah oleh cairan kelamin yang terus
mengalir dari liang vagina Bu Henny hingga
semakin lama Andi merasakan dinding
kemaluan Bu Henny semakin licin dan
nikmat.
"Oh anak muda ini begitu perkasanya...",
benak Tante Rani berkata kagum pada
pemuda itu. Ia begitu heran melihat
keperkasaan Andi dalam bermain seks.
Begitu tegarnya anak itu menggoyang tubuh
bongsor Bu Henny yang bahenol itu. Andi
seperti tak tergoyahkan oleh lincahnya
pinggul wanita paruh baya yang bergoyang
di atasnya penuh nafsu. Bahkan liang vagina
Bu Henny yang sudah punya dua orang
anak remaja itu seperti tak cukup besar
untuk menampung batang penis Andi yang
keluar masuk bak rudal nuklir. Bahkan kini
hanya beberapa menit saja mereka
bermain Bu Henny sudah tampak tak dapat
lagi menguasai jalannya permainan itu.
Wanita itu kini mendongak sambil menarik
rambutnya untuk menahan rasa nikmat
yang begitu dahsyat dari liang vaginanya
yang terdesak oleh penis pemuda itu.
"Auuuhh..., ooohh..., mati aku Ran...,
enaak..., ooohh..., Andi sayaang..., oooh
remas terus susu ibu An", teriak wanita itu
sembari menggelengkan kepalanya liar
kekiri dan kanan untuk berusaha menahan
rasa klimaks yang diambang puncaknya itu.
Tante Rani semakin terpesona melihat
gerakan liar Bu Henny yang tampak begitu
menggodanya untuk kembali mencoba
tubuh Andi. Bu Henny tampak begitu
menikmatinya dengan maksimal sampai
sehisteris seperti yang ia lihat.
Keinginannya seperti bangkit kembali untuk
mencoba lagi kenikmatan dahsyat dari
buah penis besar yang kini tambak semakin
bengkak dan keras itu. Menyaksikan hal itu
ia lalu bangkit dan mendekati kedua orang
yang sedang bermain itu. Andi menyambut
Tante Rani dengan mengulurkan tangannya
ke arah vagina wanita itu, ia langsung
meraba permukaannya yang masih basah
oleh caiiran kelamin, lalu dua jarinya masuk
ke liang itu dan mengocok-ngocoknya
hingga membuat Tante Rani merasa sedikit
nikmat. Wanita itu membalas dengan
kecupan ke arah mulut Andi hingga mereka
saling mengadu bibir dan menyedot lidah.
Permainan itu menjadi seru kembali oleh
teriakan nyaring Bu Henny yang kini terlihat
sedang berada menjelang puncak
kenikmatannya. Goyang tubuhnya semakin
liar dan tak karuan sampai kemudian ia
berteriak panjang bersamaan dengan
menyemburnya cairan hangat dan kental
dari dalam rongga rahim wanita itu.
"ooouuu..., aakuu keeeluaarr..., aahh
enaak..., oooh..", jeritnya dengan tubuh
yang tiba-tiba kejang kemudian lemas tak
berdaya.
"Ouuuh hebatnya anak muda ini", benak
Tante Rani kagum pada Andi setelah
berhasil membuat Bu Henny terkapar.
"Sialan Ran, aku kok cepat keluar kayak gini
yah?", seru Bu Henny sambil melepas
gigitan bibir vaginanya pada penis Andi
yang masih keras dan perkasa itu.
"Memang kamu bener-bener jago Andi...,
beri Tante kesempatan lagi buat
menikmatinya..., ooohh, sini kamu yang di
atas dong sayang", ajak Tante Rani setelah
Bu Henny selesai dan menyamping.
Ia kemudian berbaring pasrah membiarkan
pemuda itu menindihnya dari arah atas.
Andi sejenak memegangi kemaluannya yang
masih tegang dan kemudian dengan
perlahan mencoba masuk lagi ke dalam
liang vagina Tante Rani. Wanita itu
mengangkat sebelah kakinya agak ke atas
dan menyamping hingga belahan vagina itu
tampak jelas siap dimasuki penis Andi. Ia
langsung terhenyak dan mendesah panjang
saat kembali dirasakannya penis itu
menerobos masuk melewati dinding
vaginanya yang terasa sempit.
"Ohh..., yang pelan aja An..., enaakknya",
pinta Tante Rani sambil meresapi setiap
milimeter pergesekan dinding vaginanya
dengan buah penis Andi.
Andi mulai bergoyang dengan perlahan
seperti yang diinginkan wanita itu. Tante
Rani meremas sendiri buah dadanya yang
ranum sementara Andi meraih kedua
kakinya dan membentangkannya ke arah kiri
dan kanan sehingga membuka
selangkangan wanita itu lebih lebar lagi.
Tak ayal gaya itu membuat Tante Rani
berteriak gila menahan nikmatnya penis
Andi yang terasa lebih dalam masuk dan
membentur dasar liang vaginanya yang
paling dalam.
"Aahh..., ooohh hebatnya kamu Andi...,
ooohh Henny nikmat sekali hennn...,
ooouuuhh enaakk..., oooh genjotlah yang
keras An..., oooh semakin nikmat ooohh
pintaar..., ooohh yaahh..., mm..., lezaatt...,
ooohh Andi..., pantas kamu senang sama
dia Hen..., ooohh ampuuun enaknya...,
oohh pintar sekali kamu Andi..., ooohh",
desah Tante Rani setengah berteriak.
Pantatnya ikut bergoyang mengimbangi
kenikmatan dari hempasan tubuh Andi
yang kian menghantam keras ke arah
tubuhnya. Penis besar itu benar-benar
memberinya sejuta sensasi rasa yang tak
pernah ia rasakan sebelumnya. Kenikmatan
dahsyat yang membuatnya lupa diri dan
berteriak seperti orang gila.
Dijambaknya sendiri rambutnya yang
tergerai indah sampai ia terlihat seperti
orang yang sedang dimasuki roh setan.
Tiba-tiba ia berguling dan segera menindih
tubuh pemuda itu dan menggoyang turun
naik sambil berjongkok. Jari telunjuknya
berusaha meraba daerah kemaluannya
sendiri untuk membuat clitoris sebesar biji
kacang di celah bibir kewanitaannya
mendapat sentuhan lebih banyak lagi dari
kulit tebal penis Andi yang terasa begitu
nikmat membelai permukaan vaginanya.
Hempasan demi hempasan dari tubuh
pemuda itu berusaha diimbanginya dengan
berteriak menahan nikmatnya benturan
penis Andi. Sesekali ia membalas dengan
juga menghempaskan tubuh dan pantatnya
dengan keras, namun gerakan itu justru
semakin membuatnya tak dapat bertahan.
Kenikmatan maha dahsyat itu kembali
membuatnya menggapai puncak permainan
untuk yang kedua kalinya. Tak dapat
ditahannya akibat dari sebuah genjotan
keras yang membuat clitoris sebesar biji
kacang di celah vaginanya masuk ke dalam
liang itu dan tersentuh kedahsyatan penis
Andi yang perkasa. Dengan sepenuh tenaga
ia berteriak keras sekali sambil
menghempaskan tubuhnya yang bahenol itu
sekeras-kerasnya.
"Aooowww..., ooohh..., aku keluaar lagiii...,
ooohh enaak Andiii..., ooohh uuuhh..., air
maniku tumpah..., ooohh, nikmat sekali
ooohh..., nanti main lagi aahh", teriaknya
panjang.
Andi merasakan denyutan keras pada
vagina Tante Rani yang sekaligus
menyemburkan cairan hangat dan
memenuhi rongga vagina itu. Liang
kemaluan itu berubah menjadi sangat licin
dan nikmat hingga Andi terangsang untuk
terus menggoyang pinggulnya.
Direngkuhnya pinggul itu, ia mendekap erat
sambil terus menggoyang memutar poros
pantatnya hingga penisnya seperti
mengaduk-aduk isi dalam vagina Tante
Rani. Namun wanita itu merasakan kegelian
yang dahsyat. Kenikmatan yang tadinya
begitu hebat tiba-tiba berubah menjadi
rasa geli yang seakan membuatnya ingin
melepaskan penis Andi dari dalam
vaginanya. Namun pemuda itu tampak
semakin asik menggoyang dan menciumi
sekujur tubuhnya penuh nafsu. Hingga tak
dihiraukannya gerakan meronta Tante Rani
yang berusaha melepaskan diri akibat rasa
geli yang tak dapat ditahannya lagi.
"aaww..., geeliii..., ampun sayang Tante
nyerah lepasin Tante dong..., geliii",
teriaknya memohon pada Andi. Dengan
sedikit perasaan kecewa Andi
menghentikan gerakannya, dan melepaskan
pelukannya pada pinggul Tante Rani yang
langsung saja terjatuh lemas.
"Ohh. Tante nggak kuat lagi Andi.., ooh
hebatnya kamu, sudah dua kali tante kamu
bikin keluar, gila kamu. Benar-benar jantan,
Hen, kamu sungguh beruntung..., ooohh
nikmatnya", lanjutnya sambil membelai
kemaluan Andi yang masih saja tegak tak
tergoyahkan. Dikecupnya kepala penis itu
dengan lembut lalu ia meraih batangnya
dan tanpa diminta mengkaraoke pemuda
itu. Andi tersenyum melihatnya lalu
memberikan belaian pada rambut wanita
itu.
Sementara Bu Henny masih terpaku
menyaksikan kehebatan Andi, tak pernah
sebelumnya ia bayangkan seorang lelaki
muda seperti Andi membuat dua orang
wanita paruh baya seperti dirinya dan Tante
Rani menyerah pada keperkasaan dan
kejantanannya. Bahkan ia telah membuat
Tante Rani meringis dan memelas
memohon Andi untuk berhenti, betapa
dahsyatnya keperkasaan pemuda itu. Kini ia
hanya memandangi Tante Rani yang tengah
berusaha melanjutkan birahi anak itu yang
belum juga tuntas. Dilihatnya jam dinding,
"Sudah jam satu dini hari, ia sanggup
bertahan selama itu, ooohh hebatnya",
batin Bu Henny.
Tiga jam lebih pemuda itu mampu bertahan
dari serangan ganas kedua wanita dewasa
itu. Kini dengan sisa tenaganya Tante Rani
dan Bu Henny kembali mencoba
memuaskan Andi. Bergilir mereka
melakukan karaoke sambil menunggu saat
vagina mereka siap untuk menerima
masuknya penis besar Andi. Secara bergilir
juga mereka memberi kesempatan pada
Andi untuk menjilati daerah kemaluan
mereka untuk kembali membangkitkan nafsu
birahi itu. Dan beberapa saat kemudian
mereka berhasil dan memulai lagi
permainan segi tiga itu. Masih bergilir
kedua perempuan itu saling menukar posisi
untuk mengimbangi kekuatan Andi.
Bergantian mereka meraih kenikmatan dari
penis besar sang pemuda perkasa itu,
beragam gaya mereka pakai agar tidak
cepat keluar. Namun keperkasaan Andi
memang benar-benar dahsyat hingga salah
satu dari mereka yaitu Bu Henny kembali
terkapar meraih puncak kenikmatan dari
penis Andi.
"Ohh Tante..., sebentar lagi saya keluar",
kata Andi tiba-tiba saat memulai
permainannya dengan Tante Rani setelah
membuat Bu Henny terkapar.
"Ohh kamu kuat sekali An, kalau nggak
keluar sekarang mungkin Tante dan Bu
Henny nggak sanggup lagi, Tante sudah
kamu bikin keluar tiga kali, dan juga Bu
Henny.., sekarang keluarin yah sayang..",
rajuk Tante Rani pada pemuda itu.
"Baiklah Tante, saya nggak akan nahan lagi,
ayo kita mulai", ajaknya sembari memeluk
tubuh bugil Tante Rani dan langsung
menusukkan kemaluannya dalam liang
vagina wanita itu.
Mereka kembali bermain, tapi kini dengan
gerakan pelan dan mesra seperti dua orang
yang saling jatuh cinta. Diiringi kecupan dan
remasan pada payudara Bu Rani yang
ranum itu Andi terus berusaha meraih
kepuasannya secara maksimal. Hingga
beberapa puluh menit kemudian ia tampak
mulaui mempercepat gerakannya secara
bersamaan dengan Tante Rani yang juga
mengalami hal yang sama.
"Naah Tante..., saya mau keluar..., oooh
goyang yang keras..., ooohh tekan terus
tante..., ooohh memeknya tante jepit lagi...,
ooohh nikmat sekali..., ooohh", terdengar
pemuda itu menjerit pelan meresapi
kenikmatan dari tubuh Tante Rani.
"Tante jugaa..., Andii..., oooh penis kamu
panjang sekali..., ooohh enaak nikmatnya...,
ooohh remas yang keras susuku Andi...,
ooohh susu tante ooohh teruuus..., tante
keluaarr lagiii..., ooohh enaak", jerit Tante
Rani.
"Saya juga keluaarr Tante..., ooohh
enaknya..., kocok terus Tante..., ooohh air
mani saya mau nyemprot..., aahh", jerit
Andi pada waktu yang bersamaan.
Tiba-tiba Bu Henny yang sejak tadi hanya
melihat mereka bangkit dan mendekati
Andi.
"Cabut An sini semprot ke muka ibu, ibu
pingin minum sperma kamu cepaat",
teriaknya.
"Baik Bu..., ooohh..., minum Bu..., ooohh",
teriak Andi sambil berdiri di hadapan Bu
henny yang mendongak tepat di bawah
penis yang menyemprotkan cairan sperma
itu. Lebih dari empatkali ia menyemprotkan
cairan itu ke mulut Bu Henny yang
menganga dan langsung ia telan, kemudian
tak ketingggalan ditumpahkannya juga ke
arah muka Tante Rani yang masih tergolek
lemas di sampingnya. Wanita itupun
menyambut dengan membuka lebar
mulutnya, ia bahkan meraih batang penis
itu dan mengocokkannya dalam mulut
sehingga seluruh sisa cairan sperma
pemuda itu ia telan habis. Akhirnya
tergapai juga puncak kenikmatan Andi yang
begitu lama itu. Dengan diiringi teriakan
panjang dari mulut Tante Rani, mereka
bertiga terkapar lemas dan tak sanggup
lagi melanjutkan permainan itu. Ketiganya
kini saling bercanda ria setelah berhasil
meraih kepuasan dari hubungan seks yang
begitu seru, empat jam lebih mereka
mengumbar nafsu birahi itu sampai puas
dan kemudian tertidur kelelahan tanpa
seutas benangpun melapisi tubuh mereka.
Liburan seminggu di pulau kecil itu
memasuki hari kelima. Andi yang semula
hanya ditemani Bu Henny yang memang
sengaja merencanakan liburan itu tak
pernah menyangka akan mengalami
pengalaman hebat seperti saat ini. Seorang
lagi istri pejabat pemerintah yang haus
kepuasan seksual kini bergabung dan
semakin membuat suasana menjadi lebih
luar biasa. Dua orang wanita paruh baya
yang masing-masing memiliki pesona
kecantikan dan tubuh yang sangat
disukainya sekarang benar-benar dapat ia
nikmati sesuka hatinya. Mereka
melampiaskan nafsu seks yang membara
itu sepuas hati tanpa ada yang
menghalangi. Semua gaya dan tipe
permainan cinta dari yang buas sampai
yang lembut, satu lawan satu atau dua
lawan satu mereka lakukan tanpa kenal
henti.
Hari-hari selama seminggu itupun penuh
dengan pelampiasan birahi mereka yang
tak pernah sedetikpun mereka rasakan dari
suami-suami mereka, para pejabat
pemerintah yang berlagak jago tapi hanya
mampu bermain seperti ayam yang dalam
waktu lima menit saja sudah berteriak
menggapai puncak meski istri mereka baru
sampai tahap pemanasan saja.
Tante Rani merasakan pengalaman
pertamanya berselingkuh dengan anak
muda itu sebagai mimpi indah yang tak
akan dilupakannya. Setiap ia meminta Andi
melayaninya tak pernah sekalipun ia dapat
bertahan lebih dari lima belas menit
sementara pemuda itu sanggup
membuatnya menggapai puncak tak pernah
kurang dari tiga kali dalam setiap
permainannya. Pernah suatu saat ketika Bu
Henny meninggalkan mereka berdua dalam
villa untuk berjalan-jalan di sebuah pagi,
Tante Rani meminta Andi untuk
menggaulinya sepuas hati. Ia berusaha
semaksimal mungkin untuk bertahan dari
serangan pemuda itu. Dibiarkannya tubuh
bahenol putih mulus itu dijadikan seperti
bantal guling oleh Andi. Namun hasilnya
tetap saja ia tak dapat membuat Andi
kalah, meski telah dibiarkannya pemuda itu
menggenjot dari segala arah, dibuatnya
Andi bernafsu seperti binatang buas yang
meraung. Tapi sia-sia saja, bahkan saat Bu
Henny kembali ke villa itu setelah dua jam
berjalan-jalan di pantai, Andi masih saja
tegar menghantamkan penis besarnya
dalam liang vaginanya yang sudah tiga kali
menggapai puncak dalam satu ronde
permainan anak itu. Hingga Bu Henny yang
kemudian bergabunng sekalipun dapat ia
robohkan dalam beberapa puluh menit
saja. Bahkan sampai berulang-ulang lagi Bu
Henny bangkit, ia belum keluar juga.
Barulah setelah mereka berdua bergilir
memberikan liang vaginanya dimasuki dari
arah belakang pantat, Andi dapat meraih
ejakulasi permainannya.
Waktu liburan mereka telah habis, ketiganya
kembali ke Jakarta setelah melewati hari-
hari yang begitu menggairahkan, hari-hari
penuh teriakan kenikmatan hubungan badan
yang maha dahsyat. Pengalaman seks di
pulau kecil itu benar-benar seperti mimpi
bagi kedua wanita paruh baya itu. Justru
sekembalinya mereka dari pulau itulah, ada
sedikit perasaan gelisah di dalam hati
Tante Rani yang membayangkan dirinya
kembali ke pelukan lelaki yang sebenarnya
tak pernah ia cintai. Suaminya yang botak
tua bangka, lelaki penuh nafsu besar
dengan kemampuan seperti cacing itu kini
membuat perasaannya muak ingin muntah.
Tak habis-habisnya mereka membicarakan
seputar kenikmatan cinta dari Andi yang
dialami Tante Rani dalam perjalanan pulang
itu. Ada secercah harapan dalam benak
Tante Rani saat Bu Henny memberinya ijin
untuk boleh bergabung bersamanya
menikmati kepuasan dari Andi kapan saja
ia suka asalkan mereka melakukannya atas
sepengetahuan Bu Henny yang secara
resmi adalah pacar gelap Andi.
Pesawat yang membawa mereka kembali ke
Jakarta telah mendarat, ketiganya berpisah
di Bandara lalu pulang ke tempat tinggal
masing-masing dengan hati yang riang dan
kesan yang begitu kuat akan kenangan dan
pengalaman hebat yang mereka lalui dalam
seminggu itu. Sesampainya di rumah
masing-masing, kedua wanita itu masih tak
dapat melepas bayangan keperkasaan Andi,
hingga saat mereka berkumpul dengan
su